Monday, January 24, 2022

PEMANFAATAN ASSEMBLR EDU

 Apa itu Assemblr EDU?

Lihat bagaimana dan mengapa para guru di seluruh dunia telah menggunakan Assemblr untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih mudah diakses dan menarik di sekolah.

Berbasis Visual

Tahukah Anda bahwa sebagian besar otak manusia didedikasikan hanya untuk mencerna visual? Gambar dan animasi 3D adalah media terbaik untuk menarik perhatian dan memicu keingintahuan, khususnya bagi pelajar-pelajar di usia muda.

silahkan mendaftar di link https://id.edu.assemblrworld.com/



Mudah Dimengerti

Assemblr memungkinkan Anda membuat konsep-konsep yang rumit dan abstrak terasa lebih nyata dengan menghadirkannya tepat di ruang kelas Anda. Dengan menerangkannya dari tiap sudut menggunakan teknologi 3D dan AR, Anda dapat menghidupkan materi apapun dan memudahkan siswa menangkap pelajaran dengan lebih cepat.


Wednesday, March 25, 2020

Download Buku K13>>>>>> 2020 news

Buku K13 (Kurtilas) edisi revisi 2017 untuk Kelas 1 SD dan MI Semester 1 telah dirilis bersama dengan Buku Kurikulum 2013 Keduanya telah tersedia dalam format PDF dan dapat diunduh secara gratis untuk dipergunakan baik oleh Sekolah dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah.
Sebagaimana telah diketahui, Buku Siswa dan Buku Guru Kurikulum 2013 mengalami beberapa revisi. Ada revisi tahun 2014, 2016, dan terakhir, telah diterbitkannya edisi revisi Tahun 2017. Tentu buku edisi revisi terbaru inilah yang kemudian digunakan dalam pembelajaran di SD/MI.

Dalam edisi revisi 2017 ini terdapat penyesuaian terhadap regulasi baru terkait dengan Standar Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar proses, Kompetensi Inti, dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013.

 


1. Download Buku K13 Lainnya

Selain Buku Tematik Umum untuk Kurikulum 2013 bagi Kelas I-VI SD/MI d, dapat juga diunduh berbagai jenis Buku Kurikulum 2013 lainnya. Untuk mengunduhnya silakan klik tautan-tautan di bawah ini.

RYAN RAMADHANI,S.Pd
ryanbec55@gmail.com
085774141368


Friday, September 27, 2019

Kisah Inspiratif Guru Lembur Raih Penghargaan Anugrah Guru Indonesia 2019

Ikatan Guru Indonesia (IGI) kerjasama dengan PT Samsung mengadakan perhelatan Anugreah Guru Indonesia (AGI) yang diadakan pada tanggal 20 September 2019 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC). Anugerah ini diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan, dalam tugasnya sehari-hari dengan memanfaatkan sarana dan prasarana ICT untuk menyongsong pembelajaran abad 21 dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0.
PT Samsung Elektronik Indonesia salah satu perusahaan yang sangat peduli terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia sangat mendukung adanya kegiatan ini. Melalui Vice President PT Samsung Indonesia Mr. Lee dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada penerima Anugerah ini dan seluruh guru di Indonesia yang telah menggunakan produk-produk dari Samsung dalam pembelajaran.
Perhelatan anugerah pendidikan ini diberikan kepada 119 orang pendidik kependidikan dari 34 provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Penghargaan ini terdiri dari dua kategori yaitu kategori Inovasi dan kategori organisasi. Untuk Kabupaten Ketapang Anugerah Guru Indonesia diberikan kepada Ryan Ramadhani,S.Pd selaku Guru sekolah SMPN 2 CIDAHU yang telah berinovasi dalam melaksanakan tugas untuk kemajuan dunia pendidikan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh penerima Anugerah Guru Indonesia 2019 yang selalu berinovasi dalam bidang Pendidikan. Oleh sebab itu anugrah ini sudah selayaknya diberikan kepada mereka.
Pada kategori Guru Kabupaten Sukabumi seluruh Indonesia, juga mendapatkan penghargaan Anugrah Guru Indonesia sebagai organisasi yang tetap konsisten dalam peningkatan kompetensi guru. secara langsung penghargaan tersebut mengatakan kepada kami bahwa “Dengan adanya penghargaan ini, pengurus IGI Kabupaten Sukabumi semakin terpacu untuk tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru sesuai dengan visi dan misi Ikatan Guru Indonesia, dan harapannya semoga pendidikan di Kabupaten Sukabumi semakin maju”.

Monday, March 4, 2019

Tehnik Mengisi Jam Kosong Siswa Supaya Tetap Produktif Versi Guru Leumbur *Ryan Ramadhani*



Di mulai dari perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan sekolah Taman Siswa melawan kebijakan pendidikan colonial Belanda dengan politik balas budi yang seakan-akan ingin membalas kebaikan rakyat yang ratusan tahun telah mereka jajah, yang ternyata itu hanyalah sebuah system yang justru makin membodohi rakyat di negeri ini. Hingga sekarang dengan amanat UUD 1945 bahwa anggaran pendidikan harus sebesar 20 % dari APBD baik pusat maupun daerah, tapi kenyataan bahwa banyak komponen di dunia pendidikan harus selalu berteriak memohon belas kasihan untuk diperhatikan.
Memiliki murid yang kooperatif rasanya menjadi sebuah impian bagi seorang guru. Namun, fakta di lapangan berkata tidak demikian. Banyak terjadi penyimpangan sosial di sekolah terhadap guru. Belum lama ini masih segar di ingatan kita tentang guru yang malah ditantang muridnya. Saat itu AA yang sedang merokok di dalam kelas, ditegur oleh Nur Khalim yang merupakan salah satu guru pengampu mata pelajaran IPS di Gresik. AA melakukan tindak persekusi terhadap Nur Khalim. Mirisnya, teman-teman AA bukannya malah merelai tindakan AA, justru menertawakan.
Apa reaksi Nur Khalim?
alau bahasa murid-murid sekarang mah “woles”. Yaps, santai saja dan tidak melakukan tindakan fisik. Pasalnya, melakukan tindakan fisik terhadap murid di zaman sekarang ini pun, sang guru langsung bisa dijerat pasal tentang perlindungan anak. Padahal niatnya baik, tapi kenapa malah dihukum ya si guru ini? Siapa yang salah?
Kenakalan remaja nggak hanya satu macam, kalau dituliskan dalam satu artikel rasanya Bapak/Ibu Guru pun juga sudah punya pengalaman apa saja kenakalan remaja yang terjadi di sekitar kita. Tapi, apakah pernah terpikirkan bahwa salah satu pemicu kenakalan dari siswa selain faktor lingkungan di rumah atau teman bermainnya, kenakalan ini bisa juga dipicu dari pihak sekolah itu sendiri.
Salah satu yang mungkin saja jadi pemicu kenakalan siswa ialah adanya jam kosong. Bapak/Ibu Guru pasti sudah nggak asing dong dengan jam kosong? Biasanya jam kosong itu terjadi karena guru yang mengampu suatu mata pelajaran di jam tersebut tidak bisa hadir di kelas. Apakah Bapak/Ibu Guru pernah membayangkan bagaimana reaksi mereka? Kata seperti “Horeee….” atau bahkan “Asyiiikk….” menjadi sebuah ucapan yang memang lazim terjadi.
Salah satu kegiatan yang lazim dilakukan siswa saat jam kosong ialah berfoto bersama.
Namun, di balik kata-kata tersebut, mungkinkah muncul bibit-bibit kenakalan remaja? Sangat mungkin. Tidak jarang siswa yang berada di jam kosong tersebut meninggalkan kelas. Entah pergi ke kantin atau perpustakaan. Kalau hanya pergi ke kantin atau perpustakaan masih bisa dimaklum. Hanya saja ditakutkan, jika kebiasaan jam kosong  tetap ada, mungkin saja siswa-siswa melakukan hal yang sia-sia.
Di sini diperlukan peranan guru piket yang notabene menjadi guru pengganti saat jam kosong itu ada di sebuah kelas. Berhubung terbatasnya jumlah guru piket yang bertugas. tidak jarang jika ada beberapa kelas yang memiliki jam kosong bersamaan hanya diberikan tugas mencatat atau mengisi LKS. Apakah efektif?
Guru piket yang mengisi jam kosong biasanya memberikan tugas untuk mengisi Lembar Kerja Siswa 
Rasanya tidak akan berjalan efektif untuk mengondusifkan kelas jika menggunakan cara konvensional seperti itu. Jika Bapak/Ibu Guru kebetulan bertugas menjadi guru piket, maka tidak ada salahnya mengisi jam kosong tersebut dengan cara mengajak berdiskusi. Anda juga harus mempertimbangkan tema diskusi yang sesuai dengan jenjang mereka. Jangan sampai anak kelas diminta membahas tentang sempitnya lapangan pekerjaan.
Bapak/Ibu Guru bisa menggunakan surat kabar bekas 1 atau 2 hari yang lalu. Anda bisa membagi ke dalam beberapa kelompok yang kemudian tiap kelompok dibagikan surat kabar. Tiap kelompok itu kemudian menentukan tema dan sesuai kesepakatan bersama, diadakanlah sebuah diskusi. Secara nggak langsung, Anda mengasah kemampuan kognitif para siswa supaya berani berpendapat di muka umum.
Sekali lagi, sangat disayangkan jika jam kosong ini tidak sebanding dengan alokasi guru piket yang tidak sebanding. Banyaknya guru yang mencari tambahan jam mengajar di luar sekolah menjadikan jam kosong ini rasanya sulit untuk dihilangkan. Oleh karena itu, peran guru piket sangat diharapkan bisa membuat jam kosong itu tetap produktif.
 semoga bermanfaat&berkah untuk kita semua..
Ryan Ramadhani,S.Pd Ryanbec55@gmail.,com 085774141368