Friday, September 27, 2019

Kisah Inspiratif Guru Lembur Raih Penghargaan Anugrah Guru Indonesia 2019

Ikatan Guru Indonesia (IGI) kerjasama dengan PT Samsung mengadakan perhelatan Anugreah Guru Indonesia (AGI) yang diadakan pada tanggal 20 September 2019 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC). Anugerah ini diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap pendidik dan tenaga kependidikan, dalam tugasnya sehari-hari dengan memanfaatkan sarana dan prasarana ICT untuk menyongsong pembelajaran abad 21 dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0.
PT Samsung Elektronik Indonesia salah satu perusahaan yang sangat peduli terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia sangat mendukung adanya kegiatan ini. Melalui Vice President PT Samsung Indonesia Mr. Lee dalam sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada penerima Anugerah ini dan seluruh guru di Indonesia yang telah menggunakan produk-produk dari Samsung dalam pembelajaran.
Perhelatan anugerah pendidikan ini diberikan kepada 119 orang pendidik kependidikan dari 34 provinsi yang tersebar di seluruh Indonesia. Penghargaan ini terdiri dari dua kategori yaitu kategori Inovasi dan kategori organisasi. Untuk Kabupaten Ketapang Anugerah Guru Indonesia diberikan kepada Ryan Ramadhani,S.Pd selaku Guru sekolah SMPN 2 CIDAHU yang telah berinovasi dalam melaksanakan tugas untuk kemajuan dunia pendidikan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia (IGI) menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh penerima Anugerah Guru Indonesia 2019 yang selalu berinovasi dalam bidang Pendidikan. Oleh sebab itu anugrah ini sudah selayaknya diberikan kepada mereka.
Pada kategori Guru Kabupaten Sukabumi seluruh Indonesia, juga mendapatkan penghargaan Anugrah Guru Indonesia sebagai organisasi yang tetap konsisten dalam peningkatan kompetensi guru. secara langsung penghargaan tersebut mengatakan kepada kami bahwa “Dengan adanya penghargaan ini, pengurus IGI Kabupaten Sukabumi semakin terpacu untuk tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan kompetensi guru sesuai dengan visi dan misi Ikatan Guru Indonesia, dan harapannya semoga pendidikan di Kabupaten Sukabumi semakin maju”.

Monday, March 4, 2019

Tehnik Mengisi Jam Kosong Siswa Supaya Tetap Produktif Versi Guru Leumbur *Ryan Ramadhani*



Di mulai dari perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan sekolah Taman Siswa melawan kebijakan pendidikan colonial Belanda dengan politik balas budi yang seakan-akan ingin membalas kebaikan rakyat yang ratusan tahun telah mereka jajah, yang ternyata itu hanyalah sebuah system yang justru makin membodohi rakyat di negeri ini. Hingga sekarang dengan amanat UUD 1945 bahwa anggaran pendidikan harus sebesar 20 % dari APBD baik pusat maupun daerah, tapi kenyataan bahwa banyak komponen di dunia pendidikan harus selalu berteriak memohon belas kasihan untuk diperhatikan.
Memiliki murid yang kooperatif rasanya menjadi sebuah impian bagi seorang guru. Namun, fakta di lapangan berkata tidak demikian. Banyak terjadi penyimpangan sosial di sekolah terhadap guru. Belum lama ini masih segar di ingatan kita tentang guru yang malah ditantang muridnya. Saat itu AA yang sedang merokok di dalam kelas, ditegur oleh Nur Khalim yang merupakan salah satu guru pengampu mata pelajaran IPS di Gresik. AA melakukan tindak persekusi terhadap Nur Khalim. Mirisnya, teman-teman AA bukannya malah merelai tindakan AA, justru menertawakan.
Apa reaksi Nur Khalim?
alau bahasa murid-murid sekarang mah “woles”. Yaps, santai saja dan tidak melakukan tindakan fisik. Pasalnya, melakukan tindakan fisik terhadap murid di zaman sekarang ini pun, sang guru langsung bisa dijerat pasal tentang perlindungan anak. Padahal niatnya baik, tapi kenapa malah dihukum ya si guru ini? Siapa yang salah?
Kenakalan remaja nggak hanya satu macam, kalau dituliskan dalam satu artikel rasanya Bapak/Ibu Guru pun juga sudah punya pengalaman apa saja kenakalan remaja yang terjadi di sekitar kita. Tapi, apakah pernah terpikirkan bahwa salah satu pemicu kenakalan dari siswa selain faktor lingkungan di rumah atau teman bermainnya, kenakalan ini bisa juga dipicu dari pihak sekolah itu sendiri.
Salah satu yang mungkin saja jadi pemicu kenakalan siswa ialah adanya jam kosong. Bapak/Ibu Guru pasti sudah nggak asing dong dengan jam kosong? Biasanya jam kosong itu terjadi karena guru yang mengampu suatu mata pelajaran di jam tersebut tidak bisa hadir di kelas. Apakah Bapak/Ibu Guru pernah membayangkan bagaimana reaksi mereka? Kata seperti “Horeee….” atau bahkan “Asyiiikk….” menjadi sebuah ucapan yang memang lazim terjadi.
Salah satu kegiatan yang lazim dilakukan siswa saat jam kosong ialah berfoto bersama.
Namun, di balik kata-kata tersebut, mungkinkah muncul bibit-bibit kenakalan remaja? Sangat mungkin. Tidak jarang siswa yang berada di jam kosong tersebut meninggalkan kelas. Entah pergi ke kantin atau perpustakaan. Kalau hanya pergi ke kantin atau perpustakaan masih bisa dimaklum. Hanya saja ditakutkan, jika kebiasaan jam kosong  tetap ada, mungkin saja siswa-siswa melakukan hal yang sia-sia.
Di sini diperlukan peranan guru piket yang notabene menjadi guru pengganti saat jam kosong itu ada di sebuah kelas. Berhubung terbatasnya jumlah guru piket yang bertugas. tidak jarang jika ada beberapa kelas yang memiliki jam kosong bersamaan hanya diberikan tugas mencatat atau mengisi LKS. Apakah efektif?
Guru piket yang mengisi jam kosong biasanya memberikan tugas untuk mengisi Lembar Kerja Siswa 
Rasanya tidak akan berjalan efektif untuk mengondusifkan kelas jika menggunakan cara konvensional seperti itu. Jika Bapak/Ibu Guru kebetulan bertugas menjadi guru piket, maka tidak ada salahnya mengisi jam kosong tersebut dengan cara mengajak berdiskusi. Anda juga harus mempertimbangkan tema diskusi yang sesuai dengan jenjang mereka. Jangan sampai anak kelas diminta membahas tentang sempitnya lapangan pekerjaan.
Bapak/Ibu Guru bisa menggunakan surat kabar bekas 1 atau 2 hari yang lalu. Anda bisa membagi ke dalam beberapa kelompok yang kemudian tiap kelompok dibagikan surat kabar. Tiap kelompok itu kemudian menentukan tema dan sesuai kesepakatan bersama, diadakanlah sebuah diskusi. Secara nggak langsung, Anda mengasah kemampuan kognitif para siswa supaya berani berpendapat di muka umum.
Sekali lagi, sangat disayangkan jika jam kosong ini tidak sebanding dengan alokasi guru piket yang tidak sebanding. Banyaknya guru yang mencari tambahan jam mengajar di luar sekolah menjadikan jam kosong ini rasanya sulit untuk dihilangkan. Oleh karena itu, peran guru piket sangat diharapkan bisa membuat jam kosong itu tetap produktif.
 semoga bermanfaat&berkah untuk kita semua..
Ryan Ramadhani,S.Pd Ryanbec55@gmail.,com 085774141368

Wednesday, February 20, 2019

LITERASI DI ERA PENDIDIKAN REVOLUSI 4.0



Assalamualaikum
Saya Ryan Ramadhani biasa dipanggil Ryan Dilahirkan di Sukabumi, 05 Mei 1989,Seorang Guru Honorer di sekolah swasta Kab.Sukabumi  Tepatnya  di SMPN 2 CIDAHU Ds.Pasirdoton Kec.Cidahu, Alhamdulilah Pernah menjadi Guru Ambasador Quipper School 2016 dan Alhmadulilah telah berhasil mengikuti pelatihan  Virtual Cordinator Online Training Batch 2 yang diselenggarakan oleh seamolec.      Saya adalah Guru di Kab.Sukabumi yang masih banyak kekurangan dan kesalahan tapi saya selalu mencoba memperbaiki diri dalam hal mengajar dengan cara mengikuti seminar online seperti  : White Board Animation,Blender,Blog, bahkan saya mengikuti seminar seperti sagusaku dan  menemu baling Dll.
Saya selalu bersyukur walaupun dengan jarak yang jauh dari rumah ketempat seminar saya selalu berusaha mengikutinya walaupun banyak rintangan Yang harus saya hadapi ,
Saat ini, kita menghadapi revolusi industri keempat yang dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Ini merupakan era inovasi disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu menggantikan teknologi yang sudah ada.
Menghadapi tantangan yang besar tersebut maka pendidikan dituntut untuk berubah juga. Termasuk pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Era pendidikan yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0 disebut Pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 merupakan pendidikan yang bercirikan pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber (cyber system). Sistem ini mampu membuat proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontinu tanpa batas ruang dan batas waktu.
Indonesia tergolong lambat dalam merespon revolusi industri 4.0 dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sistem pendidikan 4.0 baru bergaung kencang dalam tahun ini. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memadai dalam menyongsong era Pendidikan 4.0.
Sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikanguru harus meng-upgrade kompetensi dalam menghadapi era Pendidikan 4.0. Peserta didik yang dihadapi guru saat ini merupakan generasi milenial yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Peserta didik sudah terbiasa dengan arus informasi dan teknologi industri 4.0. Ini menunjukkan bahwa produk sekolah yang diluluskan harus mampu menjawab tantangan industri 4.0.
Mengingat tantangan yang besar tersebut, maka guru harus terus belajar meningkatkan kompetensi sehingga mampu menghadapi peserta didik generasi milenial. Jangan sampai timbul istilah, peserta didik era industri 4.0, belajar dalam ruang industri 3.0, dan diajarkan oleh guru industri 2.0 atau bahkan 1.0. Jika ini terjadi, maka pendidikan kita akan terus tertinggal dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar ini. Kualitas guru harus sesuai dengan performa guru yang dibutuhkan dalam era industri 4.0. Penulis menyebut guru yang memiliki kualitas seperti tersebut sebagai guru 4.0.
Era pendidikan 4.0 merupakan tantangan yang sangat berat dihadapi guru. Jack Ma (CEO Alibaba Group) dalam pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, menyatakan bahwa pendidikan adalah tantangan besar abad ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, maka 30 tahun mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana saat ini terimplementasi akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu berkompetisi dengan mesin.
Oleh karena itu, guru harus mengurangi dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran dengan harapan peserta didik mampu mengungguli kecerdasan mesin. Pendidikan yang diimbangi dengan karakter dan literasi menjadikan peserta didik akan sangat bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan masyarakat.
Era pendidikan 4.0 merupakan jawaban atas terjadinya revolusi industri 4.0. Guru 4.0 sangat dibutuhkan dalam menghadapi era pendidikan 4.0. Bagaimana menjadi guru 4.0? Pertanyaan ini sangat penting dijawab agar guru mampu meningkatkan kompetensi menuju guru 4.0. Guru 4.0 memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mendidik peserta didik menghadapi Revolusi Industri 4.0. Guru 4.0 merupakan guru yang mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi digital dalampembelajaran.
Butuhkompetensi Revolusi industri 4.0 ditandai oleh hadirnya empat hal, yaitu komputer super, kecerdasan buatan (artificial intelligency), sistem siber (cyber system), dan kolaborasi manufaktur. Dengan demikian dibutuhkan kompetensi yang mampu mengimbangi kehadiran keempat hal itu dalam era Pendidikan 4.0. Kompetensi yang dibutuhkan tersebut merupakan salah satu proyeksikebutuhankompetensiabad21.
            Kompetensi yang dibutuhkan dalam era Pendidikan 4.0 adalah: Pertama, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill). Kompetensi ini sangat penting dimiliki peserta didik dalam pembelajaran abad 21. Guru 4.0 harus mampu meramu pembelajaran sehingga dapat mengeksplor kompetensi ini dari diri peserta didik.
            Kedua, keterampilan komunikasi dan kolaboratif (communication and collaborative skill). Sebagai satu kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam abad 21, keterampilan ini harus mampu dikonstruksi dalam pembelajaran. Model pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi harus diterapkan guru guna mengkonstruksi kompetensi komunikasi dan kolaborasi.
            Ketiga, keterampilan berpikir kreatif dan inovasi (creativity and innovative skill). Revolusi industri 4.0 mengharuskan peserta didik untuk selalu berpikir dan bertindak kreatif dan inovatif. Tindakan ini perlu dilakukan agar peserta didik mampu bersaing dan menciptakan lapangan kerja berbasis industri 4.0. Kondisi ini diperlukan mengingat sudah banak korban revolusi industri 4.0. Misalnya, banyak profesi yang tergantikan oleh mesin digital robot. Contoh, pembayaran jalan tol menggunakan e-toll. Sistem ini telah memaksa pengelola jalan tol untuk memberhentikan tenaga kerja yang selama ini digunakan di setiap pintu tol.
            Keempat, literasi teknologi informasi dan komunikasi (information and communication technology literacy). Literasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi kewajiban bagi guru 4.0. Literasi TIK harus dilakukan agar tidak tertinggal dengan peserta didik. Literasi TIK merupakan dasar yang harus dikuasai guru 4.0 agar mampu menghasilkan peserta didik yang siap bersaing dalam menghadapi revolusi industri 4.0.
            Kelima, contextual learning skill. Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang sangat sesuai diterapkan guru 4.0. Jika guru sudah menguasai literasi TIK, maka pembelajaran kontekstual era pendidikan 4.0 lebih mudah dilakukan. Kondisi saat ini TIK merupakan salah satu konsep kontekstual yang harus dikenalkan oleh guru. Materi pembelajaran banyak kontekstualnya berbasis TIK sehingga guru 4.0 sangat tidak siap jika tidak memiliki literasi TIK. Materi sulit yang bersifat abstrak mampu disajikan menjadi lebih riil dan kontekstual menggunakan TIK.
            Keenam, literasi informasi dan media (information and media literacy). Banyak media infromasi bersifat sosial yang digandrungi peserta didik. Media sosial seolah menjadi media komunikasi yang ampuh digunakan peserta didik dan guru. Media sosial menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru 4.0. Kehadiran kelas digital bersifat media sosial dapat dimanfaatkan guru, agar pembelajaran berlangsung tanpa batas ruang dan waktu.
            Guru harus siap menghadapi era pendidikan 4.0 meskipun disibukkan oleh beban kurikulum dan administratif yang sangat padat. Jika tidak, maka generasi muda kita akan terus tertinggal dan efeknya tidak mampu bersaing menghadapi implikasi Revolusi Industri 4.0. Momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2018 ini hendaknya dapat dijadikan guru untuk terus meningkatkan kompetensi menuju guru 4.0.
            Renungan Sore Ini. Sore ini aku merenung seorang diri di depan teras rumah, merenungkan tentang segala sesuatu yang telah aku lakukan sebagai seorang guru. Apakah sesuatu yang bisa menginspirasi murid – muridku, akankah diantara mereka kelak dua puluh tahun yang akan datang menyampaikan kebanggaannya. Bahwa aku adalah sosok inspirasi yang membuat mereka sukses sekarang.
Sungguh kelak aku merindukan murid – muridku bukan hanya orang – orang yang sukses secara ekonomi, tetapi juga mulia dalam akhlak. Karena itulah yang paling aku impikan. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada zaman itu, dua puluh tahun yang akan datang, zaman yang aku mungkin telah tiada atau mungkin aku yang sudah mulai tua.
Aku pun tak berharap kelak ada murid – muridku ada yang mengatakan “mimpi – mimpiku hancur karena guruku”. Sungguh aku berlindung kepada Allah dan memohon ampun kepadanya, jika pada waktu yang sudah kulewati ada kata dan sikap yang menyakitkan dan menyayat hati murid – muridku. Ah, rasanya menyesal diriku jika ku ingat dulu aku pernah membentak di antara murid – muridku, memukul meja, berteriak dengan kencang di dalam kelas, karena ketidaksabaranku mendidik mereka.
Aku pun tidak berharap kelak ketika aku sedang berjalan, berpapasan dengan murid – muridku, mereka tidak menyapaku. Mungkin karena kesalahanku di masa lalu bahwa aku tidak pernah menyapa mereka, saat – saat mereka sedang di bangku sekolah. Atau karena aku tidak memperhatikan mereka saat mereka butuh perhatian dari seorang guru sepertiku.
Kelak ketika mereka sudah lulus sekolah, sungguh tak ingin aku mendengar mereka tertawa dengan riangnya, karena menertawakan kebodohanku sebagai guru. Aku tidak ingin dikenang sebagai sosok guru yang tidak bersahabat bagi mereka, tidak berwibawa, membosankan, tidak asyik dan segala cap jelek lainnya.
Tak ingin menjadi sosok yang tidak istimewa bagi murid – muridku, pagi ini aku bertekad menguatkan diri untuk terus mengasah diri untuk menjadi guru inspiratif  bagi murid – muridku. Aku ingin dikenang sebagai guru yang inspiratif bagi murid – muridku yaitu guru – guru yang kata – kata serta perilakukanya bisa diteladani.

Tuesday, February 19, 2019

media pembelajaran

https://drive.google.com/file/d/0B-1xIqIGe4j8S3dnMXFwTmlWLTQ/view?usp=sharing