Ikatan Guru Indonesia (IGI) kerjasama dengan PT Samsung mengadakan
perhelatan Anugreah Guru Indonesia (AGI) yang diadakan pada tanggal 20
September 2019 bertempat di Jakarta Convention Center (JCC). Anugerah
ini diberikan sebagai wujud penghargaan terhadap pendidik dan tenaga
kependidikan, dalam tugasnya sehari-hari dengan memanfaatkan sarana dan
prasarana ICT untuk menyongsong pembelajaran abad 21 dalam rangka
menghadapi revolusi industri 4.0.
PT Samsung Elektronik Indonesia salah satu perusahaan yang sangat peduli
terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia sangat mendukung adanya
kegiatan ini. Melalui Vice President PT Samsung Indonesia Mr. Lee dalam
sambutannya mengucapkan banyak terima kasih kepada penerima Anugerah ini
dan seluruh guru di Indonesia yang telah menggunakan produk-produk dari
Samsung dalam pembelajaran.
Perhelatan anugerah pendidikan ini diberikan kepada 119 orang
pendidik kependidikan dari 34 provinsi yang tersebar di seluruh
Indonesia. Penghargaan ini terdiri dari dua kategori yaitu kategori
Inovasi dan kategori organisasi. Untuk Kabupaten Ketapang Anugerah Guru
Indonesia diberikan kepada Ryan Ramadhani,S.Pd selaku Guru sekolah
SMPN 2 CIDAHU yang telah berinovasi dalam melaksanakan
tugas untuk kemajuan dunia pendidikan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia
(IGI) menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh
penerima Anugerah Guru Indonesia 2019 yang selalu berinovasi dalam
bidang Pendidikan. Oleh sebab itu anugrah ini sudah selayaknya diberikan
kepada mereka.
Pada kategori Guru Kabupaten Sukabumi seluruh Indonesia, juga
mendapatkan penghargaan Anugrah Guru Indonesia sebagai organisasi yang
tetap konsisten dalam peningkatan kompetensi guru. secara langsung
penghargaan tersebut mengatakan kepada kami bahwa “Dengan adanya
penghargaan ini, pengurus IGI Kabupaten Sukabumi semakin terpacu untuk
tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan
kompetensi guru sesuai dengan visi dan misi Ikatan Guru Indonesia, dan
harapannya semoga pendidikan di Kabupaten Sukabumi semakin maju”.
Friday, September 27, 2019
Tuesday, August 13, 2019
Monday, March 4, 2019
Tehnik Mengisi Jam Kosong Siswa Supaya Tetap Produktif Versi Guru Leumbur *Ryan Ramadhani*
Versi Guru Leumbur *RyanRamadhani*
https://radioonline.co.id/hits-bandung/https://radioonline.co.id/hits-bandung/https://radioonline.co.id/hits-bandung/
Di mulai dari
perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan sekolah Taman Siswa melawan kebijakan
pendidikan colonial Belanda dengan politik balas budi yang seakan-akan ingin
membalas kebaikan rakyat yang ratusan tahun telah mereka jajah, yang ternyata
itu hanyalah sebuah system yang justru makin membodohi rakyat di negeri ini.
Hingga sekarang dengan amanat UUD 1945 bahwa anggaran pendidikan harus sebesar
20 % dari APBD baik pusat maupun daerah, tapi kenyataan bahwa banyak komponen di
dunia pendidikan harus selalu berteriak memohon belas kasihan untuk
diperhatikan.
Memiliki murid
yang kooperatif rasanya menjadi sebuah impian bagi seorang guru. Namun, fakta di lapangan berkata tidak demikian.
Banyak terjadi penyimpangan sosial di sekolah terhadap guru. Belum lama
ini masih segar di ingatan kita tentang guru yang malah ditantang muridnya.
Saat itu AA yang sedang merokok di dalam kelas, ditegur oleh Nur Khalim yang
merupakan salah satu guru pengampu mata pelajaran IPS di Gresik. AA melakukan
tindak persekusi terhadap Nur Khalim. Mirisnya, teman-teman AA bukannya malah
merelai tindakan AA, justru menertawakan.
Apa reaksi Nur Khalim?
alau bahasa
murid-murid sekarang mah “woles”. Yaps, santai saja dan tidak melakukan
tindakan fisik. Pasalnya, melakukan tindakan fisik terhadap murid di zaman
sekarang ini pun, sang guru langsung bisa dijerat pasal tentang perlindungan
anak. Padahal niatnya baik, tapi kenapa malah dihukum ya si guru ini? Siapa
yang salah?
Kenakalan
remaja nggak hanya satu macam, kalau dituliskan dalam satu artikel rasanya
Bapak/Ibu Guru pun juga sudah punya pengalaman apa saja kenakalan remaja yang
terjadi di sekitar kita. Tapi, apakah pernah terpikirkan bahwa salah satu
pemicu kenakalan dari siswa selain faktor lingkungan di rumah atau teman
bermainnya, kenakalan ini bisa juga dipicu dari pihak sekolah itu sendiri.
Salah satu
yang mungkin saja jadi pemicu kenakalan siswa ialah adanya jam kosong.
Bapak/Ibu Guru pasti sudah nggak asing dong dengan jam kosong? Biasanya jam
kosong itu terjadi karena guru yang mengampu suatu mata pelajaran di jam
tersebut tidak bisa hadir di kelas. Apakah Bapak/Ibu Guru pernah membayangkan
bagaimana reaksi mereka? Kata seperti “Horeee….” atau bahkan “Asyiiikk….”
menjadi sebuah ucapan yang memang lazim terjadi.
Salah satu kegiatan yang lazim
dilakukan siswa saat jam kosong ialah berfoto bersama.
Namun, di
balik kata-kata tersebut, mungkinkah muncul bibit-bibit kenakalan remaja?
Sangat mungkin. Tidak jarang siswa yang berada di jam kosong tersebut
meninggalkan kelas. Entah pergi ke kantin atau perpustakaan. Kalau hanya pergi
ke kantin atau perpustakaan masih bisa dimaklum. Hanya saja ditakutkan, jika
kebiasaan jam kosong tetap ada, mungkin
saja siswa-siswa melakukan hal yang sia-sia.
Di sini
diperlukan peranan guru piket yang notabene menjadi guru pengganti saat jam
kosong itu ada di sebuah kelas. Berhubung terbatasnya jumlah guru piket yang
bertugas. tidak jarang jika ada beberapa kelas yang memiliki jam kosong
bersamaan hanya diberikan tugas mencatat atau mengisi LKS. Apakah efektif?
Guru piket yang mengisi jam
kosong biasanya memberikan tugas untuk mengisi Lembar Kerja Siswa
Rasanya tidak
akan berjalan efektif untuk mengondusifkan kelas jika menggunakan cara
konvensional seperti itu. Jika Bapak/Ibu Guru kebetulan bertugas menjadi guru
piket, maka tidak ada salahnya mengisi jam kosong tersebut dengan cara mengajak
berdiskusi. Anda juga harus mempertimbangkan tema diskusi yang sesuai dengan
jenjang mereka. Jangan sampai anak kelas diminta membahas tentang sempitnya
lapangan pekerjaan.
Bapak/Ibu Guru
bisa menggunakan surat kabar bekas 1 atau 2 hari yang lalu. Anda bisa membagi ke
dalam beberapa kelompok yang kemudian tiap kelompok dibagikan surat kabar. Tiap
kelompok itu kemudian menentukan tema dan sesuai kesepakatan bersama,
diadakanlah sebuah diskusi. Secara nggak langsung, Anda mengasah kemampuan
kognitif para siswa supaya berani berpendapat di muka umum.
Sekali lagi,
sangat disayangkan jika jam kosong ini tidak sebanding dengan alokasi guru
piket yang tidak sebanding. Banyaknya guru yang mencari tambahan jam mengajar
di luar sekolah menjadikan jam kosong ini rasanya sulit untuk dihilangkan. Oleh
karena itu, peran guru piket sangat diharapkan bisa membuat jam kosong itu
tetap produktif.
semoga bermanfaat&berkah untuk kita semua..Ryan Ramadhani,S.Pd Ryanbec55@gmail.,com 085774141368
Wednesday, February 20, 2019
LITERASI DI ERA PENDIDIKAN REVOLUSI 4.0
Assalamualaikum
Saya Ryan Ramadhani biasa
dipanggil Ryan Dilahirkan di Sukabumi, 05 Mei 1989,Seorang Guru Honorer di sekolah swasta
Kab.Sukabumi Tepatnya di SMPN 2 CIDAHU Ds.Pasirdoton Kec.Cidahu,
Alhamdulilah Pernah menjadi Guru Ambasador Quipper School 2016 dan Alhmadulilah
telah berhasil mengikuti pelatihan
Virtual Cordinator Online Training Batch 2 yang diselenggarakan oleh
seamolec. Saya adalah Guru di
Kab.Sukabumi yang masih banyak kekurangan dan kesalahan tapi saya selalu
mencoba memperbaiki diri dalam hal mengajar dengan cara mengikuti seminar
online seperti : White Board
Animation,Blender,Blog, bahkan saya mengikuti seminar seperti sagusaku dan menemu baling Dll.
Saya selalu bersyukur
walaupun dengan jarak yang jauh dari rumah ketempat seminar saya selalu
berusaha mengikutinya walaupun banyak rintangan Yang harus saya hadapi ,
Saat ini,
kita menghadapi revolusi industri keempat yang dikenal dengan Revolusi Industri
4.0. Ini merupakan era inovasi disruptif, di mana inovasi ini berkembang sangat
pesat, sehingga mampu membantu terciptanya pasar baru. Inovasi ini juga mampu
mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan lebih dahsyat lagi mampu
menggantikan teknologi yang sudah ada.
Menghadapi tantangan yang
besar tersebut maka pendidikan dituntut untuk berubah
juga. Termasuk pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Era pendidikan yang dipengaruhi oleh revolusi
industri 4.0 disebut Pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 merupakan pendidikan yang bercirikan pemanfaatan
teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber
(cyber system). Sistem ini mampu membuat proses pembelajaran dapat berlangsung
secara kontinu tanpa batas ruang dan batas waktu.
Indonesia tergolong lambat
dalam merespon revolusi industri 4.0 dibandingkan negara tetangga seperti
Malaysia dan Singapura. Sistem pendidikan 4.0 baru bergaung kencang dalam
tahun ini. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memadai
dalam menyongsong era Pendidikan 4.0.
Sebagai garda terdepan
dalam dunia pendidikan, guru harus
meng-upgrade kompetensi dalam menghadapi era Pendidikan 4.0. Peserta didik yang
dihadapi guru saat ini merupakan generasi milenial
yang tidak asing lagi dengan dunia digital. Peserta didik sudah terbiasa dengan
arus informasi dan teknologi industri 4.0. Ini menunjukkan bahwa produk sekolah
yang diluluskan harus mampu menjawab tantangan industri 4.0.
Mengingat tantangan yang
besar tersebut, maka guru harus terus belajar meningkatkan
kompetensi sehingga mampu menghadapi peserta didik generasi milenial. Jangan
sampai timbul istilah, peserta didik era industri 4.0, belajar dalam ruang
industri 3.0, dan diajarkan oleh guru industri
2.0 atau bahkan 1.0. Jika ini terjadi, maka pendidikan kita akan terus tertinggal
dibandingkan negara lain yang telah siap menghadapi perubahan besar ini.
Kualitas guru harus sesuai dengan performa guru yang
dibutuhkan dalam era industri 4.0. Penulis menyebut guru yang
memiliki kualitas seperti tersebut sebagai guru 4.0.
Era pendidikan 4.0 merupakan tantangan yang
sangat berat dihadapi guru. Jack Ma (CEO Alibaba Group) dalam
pertemuan tahunan World Economic Forum 2018, menyatakan bahwa pendidikan adalah tantangan besar abad
ini. Jika tidak mengubah cara mendidik dan belajar-mengajar, maka 30 tahun
mendatang kita akan mengalami kesulitan besar. Pendidikan dan pembelajaran yang
sarat dengan muatan pengetahuan mengesampingkan muatan sikap dan keterampilan sebagaimana
saat ini terimplementasi akan menghasilkan peserta didik yang tidak mampu
berkompetisi dengan mesin.
Oleh karena itu, guru harus
mengurangi dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran dengan harapan
peserta didik mampu mengungguli kecerdasan mesin. Pendidikan yang diimbangi
dengan karakter dan literasi menjadikan peserta didik akan sangat bijak dalam
menggunakan mesin untuk kemaslahatan masyarakat.
Era pendidikan 4.0 merupakan jawaban atas
terjadinya revolusi industri 4.0. Guru 4.0 sangat dibutuhkan dalam menghadapi
era pendidikan 4.0. Bagaimana menjadi guru 4.0?
Pertanyaan ini sangat penting dijawab agar guru mampu
meningkatkan kompetensi menuju guru 4.0.
Guru 4.0 memiliki tanggung jawab yang lebih besar dalam mendidik peserta didik
menghadapi Revolusi Industri 4.0. Guru 4.0 merupakan guru yang
mampu menguasai dan memanfaatkan teknologi digital dalampembelajaran.
Butuhkompetensi
Revolusi industri 4.0 ditandai oleh hadirnya empat hal, yaitu komputer super,
kecerdasan buatan (artificial intelligency), sistem siber (cyber system), dan
kolaborasi manufaktur. Dengan demikian dibutuhkan kompetensi yang mampu
mengimbangi kehadiran keempat hal itu dalam era Pendidikan 4.0. Kompetensi yang
dibutuhkan tersebut merupakan salah satu proyeksikebutuhankompetensiabad21.
Kompetensi yang dibutuhkan dalam era Pendidikan 4.0 adalah: Pertama, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill). Kompetensi ini sangat penting dimiliki peserta didik dalam pembelajaran abad 21. Guru 4.0 harus mampu meramu pembelajaran sehingga dapat mengeksplor kompetensi ini dari diri peserta didik.
Kompetensi yang dibutuhkan dalam era Pendidikan 4.0 adalah: Pertama, keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving skill). Kompetensi ini sangat penting dimiliki peserta didik dalam pembelajaran abad 21. Guru 4.0 harus mampu meramu pembelajaran sehingga dapat mengeksplor kompetensi ini dari diri peserta didik.
Kedua,
keterampilan komunikasi dan kolaboratif (communication and collaborative
skill). Sebagai satu kompetensi yang sangat dibutuhkan dalam abad 21,
keterampilan ini harus mampu dikonstruksi dalam pembelajaran. Model
pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi harus diterapkan guru guna
mengkonstruksi kompetensi komunikasi dan kolaborasi.
Ketiga, keterampilan berpikir kreatif
dan inovasi (creativity and innovative skill). Revolusi industri 4.0
mengharuskan peserta didik untuk selalu berpikir dan bertindak kreatif dan
inovatif. Tindakan ini perlu dilakukan agar peserta didik mampu bersaing dan
menciptakan lapangan kerja berbasis industri 4.0. Kondisi ini diperlukan
mengingat sudah banak korban revolusi industri 4.0. Misalnya, banyak profesi
yang tergantikan oleh mesin digital robot. Contoh, pembayaran jalan tol
menggunakan e-toll. Sistem ini telah memaksa pengelola jalan tol untuk
memberhentikan tenaga kerja yang selama ini digunakan di setiap pintu tol.
Keempat, literasi teknologi informasi
dan komunikasi (information and communication technology literacy). Literasi
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi kewajiban bagi guru 4.0.
Literasi TIK harus dilakukan agar tidak tertinggal dengan peserta didik.
Literasi TIK merupakan dasar yang harus dikuasai guru 4.0
agar mampu menghasilkan peserta didik yang siap bersaing dalam menghadapi
revolusi industri 4.0.
Kelima, contextual learning skill.
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang sangat sesuai diterapkan guru 4.0.
Jika guru sudah menguasai literasi TIK, maka
pembelajaran kontekstual era pendidikan 4.0 lebih mudah dilakukan.
Kondisi saat ini TIK merupakan salah satu konsep kontekstual yang harus
dikenalkan oleh guru. Materi pembelajaran banyak kontekstualnya
berbasis TIK sehingga guru 4.0 sangat tidak siap jika tidak
memiliki literasi TIK. Materi sulit yang bersifat abstrak mampu disajikan
menjadi lebih riil dan kontekstual menggunakan TIK.
Keenam, literasi informasi dan media
(information and media literacy). Banyak media infromasi bersifat sosial yang
digandrungi peserta didik. Media sosial seolah menjadi media komunikasi yang
ampuh digunakan peserta didik dan guru.
Media sosial menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat dimanfaatkan guru 4.0.
Kehadiran kelas digital bersifat media sosial dapat dimanfaatkan guru,
agar pembelajaran berlangsung tanpa batas ruang dan waktu.
Guru harus siap menghadapi era pendidikan 4.0 meskipun disibukkan oleh
beban kurikulum dan administratif yang sangat padat. Jika tidak, maka generasi
muda kita akan terus tertinggal dan efeknya tidak mampu bersaing menghadapi
implikasi Revolusi Industri 4.0. Momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2018 ini
hendaknya dapat dijadikan guru untuk terus meningkatkan
kompetensi menuju guru 4.0.
Renungan Sore Ini. Sore ini aku merenung seorang diri di depan teras rumah, merenungkan tentang segala sesuatu yang telah aku lakukan sebagai seorang guru. Apakah sesuatu yang bisa menginspirasi murid – muridku, akankah diantara mereka kelak dua puluh tahun yang akan datang menyampaikan kebanggaannya. Bahwa aku adalah sosok inspirasi yang membuat mereka sukses sekarang.
Renungan Sore Ini. Sore ini aku merenung seorang diri di depan teras rumah, merenungkan tentang segala sesuatu yang telah aku lakukan sebagai seorang guru. Apakah sesuatu yang bisa menginspirasi murid – muridku, akankah diantara mereka kelak dua puluh tahun yang akan datang menyampaikan kebanggaannya. Bahwa aku adalah sosok inspirasi yang membuat mereka sukses sekarang.
Sungguh kelak aku merindukan murid –
muridku bukan hanya orang – orang yang sukses secara ekonomi, tetapi juga mulia
dalam akhlak. Karena itulah yang paling aku impikan. Aku tidak tahu apa yang
akan terjadi pada zaman itu, dua puluh tahun yang akan datang, zaman yang aku
mungkin telah tiada atau mungkin aku yang sudah mulai tua.
Aku pun tak berharap kelak ada murid
– muridku ada yang mengatakan “mimpi – mimpiku hancur karena guruku”. Sungguh
aku berlindung kepada Allah dan memohon ampun kepadanya, jika pada waktu yang
sudah kulewati ada kata dan sikap yang menyakitkan dan menyayat hati murid –
muridku. Ah, rasanya menyesal diriku jika ku ingat dulu aku pernah membentak di
antara murid – muridku, memukul meja, berteriak dengan kencang di dalam kelas,
karena ketidaksabaranku mendidik mereka.
Aku pun tidak berharap kelak ketika
aku sedang berjalan, berpapasan dengan murid – muridku, mereka tidak menyapaku.
Mungkin karena kesalahanku di masa lalu bahwa aku tidak pernah menyapa mereka,
saat – saat mereka sedang di bangku sekolah. Atau karena aku tidak
memperhatikan mereka saat mereka butuh perhatian dari seorang guru sepertiku.
Kelak ketika mereka sudah lulus
sekolah, sungguh tak ingin aku mendengar mereka tertawa dengan riangnya, karena
menertawakan kebodohanku sebagai guru. Aku tidak ingin dikenang sebagai sosok
guru yang tidak bersahabat bagi mereka, tidak berwibawa, membosankan, tidak
asyik dan segala cap jelek lainnya.
Tak ingin menjadi sosok yang tidak
istimewa bagi murid – muridku, pagi ini aku bertekad menguatkan diri untuk
terus mengasah diri untuk menjadi guru inspiratif bagi murid – muridku.
Aku ingin dikenang sebagai guru yang inspiratif bagi murid – muridku yaitu guru
– guru yang kata – kata serta perilakukanya bisa diteladani.
Tuesday, February 19, 2019
Friday, February 15, 2019
Subscribe to:
Posts (Atom)




